Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts Today

Kurangnya Peduli Pola HIdup Sehat

Written By kom nampuldu on Selasa, 19 Juni 2012 | 16.26

Kurangnya Peduli Pola HIdup Sehat Obesitas atau kegemukan telah menjadi penyakit epidemi atau wabah meluas yang mengancam dunia. Wabah obesitas tidak terbatas dihadapi negara-negara maju, tetapi peningkatan lebih cepat justru terjadi di negara-negara sedang berkembang.
Kondisi obesitas menurunkan kualitas hidup manusia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, pada tahun 2005, secara global ada sekitar 1,6 miliar orang dewasa yang kelebihan berat badan atau overweight dan 400 juta di antaranya dikategorikan obesitas. Pada 2015 diprediksi kasus obesitas akan meningkat dua kali lipat dari angka itu.

Jika melihat data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, di Indonesia terdapat 19,1 persen kasus obesitas pada penduduk berusia di atas 15 tahun. Angka tersebut melebihi besaran angka kekurangan gizi dan gizi buruk pada anak-anak usia di bawah lima tahun sebesar 18,4 persen.

Perhatian terhadap epidemi obesitas secara global semakin menguat karena meningkatnya penyakit-penyakit yang terkait dengan gaya hidup. Obesitas yang sering dikaitkan dengan gaya hidup Barat menjadi penyebab utama munculnya risiko penyakit kronis, seperti diabetes tipe 2, kardiovaskular, darah tinggi dan stroke, serta berbagai jenis kanker.

Kondisi obesitas menurunkan kualitas hidup manusia. Dampak lebih jauh, beban pada sistem layanan kesehatan bisa semakin berat.

Penelitian baru di Amerika Serikat yang dilakukan John Cawley dari Universitas Cornell dan Chad Meyerhoefer dari Universitas Lehigh menunjukkan, hampir 17 persen biaya kesehatan di Negeri Paman Sam itu dapat disalahkan karena ledakan obesitas. Persoalan berat badan warga negara Amerika Serikat naik dua kali lipat dari sebelumnya.

Di negara miskin

Menurut WHO, sekitar 80 persen kasus baru penyakit kanker, diabetes, dan kardiovaskular di dunia sekarang ini bukan tercatat di negara Barat yang kaya. Justru penyakit tidak menular itu meningkat pesat di negara-negara miskin yang di satu sisi menghadapi kelaparan, tetapi di sisi lain juga masalah obesitas.

”Ledakan obesitas itu sebagai konsekuensi impor gaya hidup negara-negara Barat,” kata Francis Collins, Pemimpin Institut Nasional Kesehatan Amerika Serikat, dalam acara World Health Summit di Berlin, Jerman, pertengahan Oktober ini.

Transisi nutrisi global

Epidemi obesitas itu didorong perubahan dalam masyarakat dan transisi nutrisi secara global. Pertumbuhan ekonomi, modernisasi, urbanisasi, dan globalisasi dari pasar makanan hanyalah beberapa faktor penyebab yang mendasari epidemi ini.

Ketika pendapatan meningkat dan penduduk jadi lebih urban, konsumsi makanan berkarbohidrat tinggi dengan kandungan lemak tinggi dan gula meningkat. Pada saat yang bersamaan, aktivitas fisik berkurang karena peningkatan penggunaan transportasi otomatis, teknologi di rumah, dan pengejaran waktu luang yang pasif.

Prevalensi kelebihan berat badan dan obesitas umumnya diukur dengan menggunakan body mass index (BMI).

Untuk menghitungnya didapat dengan cara membagi berat badan (kg) dengan kuadrat dari tinggi badan (meter). Nilai BMI yang didapat tidak bergantung pada umur dan jenis kelamin.

Seseorang dikategorikan overweight jika memiliki BMI mulai dari 25 kilogram per meter kuadrat. Mereka yang memiliki BMI yang lebih dari 30 bisa dikatakan menderita obesitas. Batas BMI yang normal yakni antara angka 18,5 dan 24,9.

Rata-rata BMI orang dewasa 22 kg per meter kuadrat-23 kg per meter kuadrat ditemukan di Afrika dan Asia, sedangkan di level 25-27 kg per meter kuadrat ditemukan di Amerika Utara, Eropa, dan di beberapa Amerika Latin, Afrika Utara, serta negara-negara di Pulau Pasifik.

Peningkatan BMI yang terjadi pada usia menengah sampai tua memiliki risiko mengalami komplikasi penyakit.

Kondisi obesitas, selain menyebabkan berbagai penyakit, juga kurang menguntungkan untuk efek metabolisme pada tekanan darah, kolesterol, triglycerides, dan resistensi insulin. Apabila kondisi obesitas ditambah dengan kebiasaan merokok, dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi.

Kurangnya Peduli Pola HIdup Sehat Peningkatan BMI memicu risiko kanker payudara, kolon, prostat, endometrium, ginjal, dan empedu, juga osteoarthritis yang menjadi penyebab utama kecacatan orang dewasa.

Efek yang tidak fatal, tetapi memengaruhi masalah kesehatan yang diakibatkan oleh kondisi obesitas, antara lain, kesulitan bernapas, keluhan pada bagian otot yang kronis, masalah kulit, hingga ketidaksuburan.

Yang bisa mengancam kehidupan yakni penyakit kardiovaskular, kondisi yang berkaitan dengan insulin resisten, seperti diabetes tipe 2, kanker tertentu yang berkaitan dengan hormon dan kanker kolorektal, serta kantong empedu.

Kunci sukses untuk mengatasi masalah obesitas yaitu dengan mencapai keseimbangan energi antara jumlah kalori yang dikonsumsi dan jumlah kalori yang digunakan.

Yang bisa dilakukan untuk mencapai sasaran ini, masyarakat dapat membatasi energi yang diambil dari total lemak jenuh dan mengalihkannya ke lemak tidak jenuh, meningkatkan konsumsi buah dan sayuran—seperti tumbuhan polong, biji-bijian, dan kacang—serta membatasi gula. Untuk peningkatan penggunaan kalori aktivitas fisik perlu ditingkatkan dengan beraktivitas fisik paling sedikit 30 menit tiap hari.

Mengancam anak-anak

Dunia mulai menaruh perhatian pada obesitas karena kondisi itu juga mewabah di kalangan anak-anak. Peningkatan wabah ini merefleksikan perubahan yang serius di masyarakat dan pola-pola tingkah laku masyarakat dalam dekade ini.

Persoalan global dengan cepat memengaruhi negara-negara berpendapatan rendah dan menengah. Prevalensinya meningkat hingga ke tingkat yang mesti diwaspadai.

Secara global, pada 2010, jumlah anak-anak di bawah lima tahun yang overweight diperkirakan lebih dari 42 juta. Hampir 35 juta tinggal di negara-negara berkembang. Overweight dan obesitas yang dimulai pada usia anak-anak berpotensi tetap terjadi ketika dewasa. Bahkan, kemungkinan berkembang menjadi penyakit tidak menular, seperti diabetes dan kardiovaskular di usia yang lebih muda.

Overweight dan obesitas yang dicegah sejak dini dapat mencegah munculnya penyakit-penyakit kronis yang memperpendek usia seseorang. Karena itu, pencegahan pada anak-anak perlu prioritas tinggi.

Ancaman obesitas di kalangan anak-anak juga melanda Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2007, prevalensi obesitas pada anak-anak usia 6 dan 14 tahun mencapai 9,5 persen untuk pria, sedangkan pada perempuan mencapai 6,4 persen. Kondisi ini meningkat dari tahun 1990-an yang berkisar 4 persen.

Apalagi tingkat kebugaran para siswa tingkat dasar dan menengah di Indonesia ternyata amat memprihatinkan. Hal ini disebabkan kurangnya pemahaman masyarakat tentang kesehatan yang berdampak tidak terbentuknya budaya hidup sehat dan bugar di kalangan generasi muda.

Hasil tes kebugaran jasmani yang dilakukan Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani, Departemen Pendidikan Nasional, tahun 2004 pada 4.481 siswa SD, SMP, dan SMA di delapan provinsi memperlihatkan, hanya empat siswa yang termasuk kategori baik sekali. Siswa dengan tingkat kebugaran jasmani baik hanya 7 persen di setiap tingkatan sekolah.

Oleh karena itu, orangtua mesti membantu anak-anak mereka untuk mengontrol berat badan dalam level yang sehat. Ibu yang memberikan air susu ibu (ASI) dan menunda pemberian makanan padat kepada bayinya dapat mencegah terjadinya kondisi obesitas.

Anak-anak balita seharusnya diberikan makanan ringan yang sehat, rendah lemak, dan dilibatkan pada aktivitas fisik bertenaga setiap hari. Waktu menonton televisi perlu dibatasi tidak lebih dari tujuh jam seminggu, sudah termasuk main game dan internet.

Di usia selanjutnya, anak-anak dapat diajar memilih makanan sehat dan mengembangkan kebiasaan berolahraga secara teratur. Ketika menonton televisi harus dihindari mengunyah makanan ringan atau makanan berat Kurangnya Peduli Pola HIdup Sehat.
16.26 | 0 komentar | Read More

Susu Bayi Kurangi Kesehatan

Susu Bayi Kurangi Kesehatan Bayi yang meminum susu formula ternyata rawan mengalami kegemukan saat mulai menginjak usia lima tahun.

Penelitian menunjukkan, pertambahan bobot bayi dalam waktu lebih singkat dapat memengaruhi kehidupannya dan menempatkan mereka pada risiko mengidap penyakit, mulai dari sakit jantung hingga diabetes.

Kajian tersebut menemukan, bayi-bayi sehat yang mengonsumsi susu formula yang diperkaya protein, vitamin, dan berbagai nutrisi lainnya akan mengalami penambahan lemak tubuh sebanyak 22 sampai 38 persen ketika berusia lima hingga delapan tahun ketimbang mereka yang hanya mengonsumsi susu botol biasa.

Para peneliti asal Inggris itu, seperti dikutip Daily Mail, percaya bayi-bayi itu mengonsumsi kalori secara berlebihan. Berat badan mereka bertambah pada masa pertumbuhan yang paling krusial.

Riset sebelumnya menunjukkan bahwa 20 persen orang dewasa yang menderita obesitas disebabkan kelebihan nutrisi atau memiliki berat badan berlebih ketika masih bayi.

Para ibu pun pernah diwanti-wanti untuk memberi nutrisi yang diperkaya untuk anak yang kekurangan berat badan jika mereka tidak bisa memberikan ASI. Kini, para dokter menegaskan bahwa "menggemukkan" bayi hanya perlu untuk mereka yang lahir prematur.

"Studi ini mendukung program ASI karena dengan ASI bayi tidak bisa mengalami kelebihan makanan," ungkap Professor Atul Singhal dari MRC Childhood Nutrition Research Centre di University College London, yang memimpin penelitian itu.

"Dan temuan itu juga akan menjadi perhatian produsen susu formula untuk lebih memperbaiki produk mereka," lanjutnya.

Singhal dan timnya meneliti sejumlah kecil bayi yang baru dilahirkan di beberapa rumah sakit di Cambridge, Nottingham, Leicester, dan Glasgow. Dalam risetnya, para ilmuwan ataupun ibu tak mengetahui jenis susu formula mana yang dikonsumsi oleh bayi, apakah yang standar atau susu formula khusus yang mengandung berbagai vitamin, protein, dan mineral.

Dalam penelitian pertama, yang diikuti 299 bayi kelahiran 1993 dan 1995, susu-susu formula yang diperkaya berbagai nutrisi itu dikonsumsi selama sembilan bulan.

Studi kedua melibatkan 246 bayi yang lahir antara tahun 2003 dan 2005 dihentikan lebih awal karena ada bukti yang menghubungkan antara kelebihan nutrisi dan obesitas yang ditemukan pada penelitian pertama.

Inggris adalah salah satu negara dengan angka pemberian ASI terendah di Eropa dengan rata-rata satu dari tiga ibu baru tidak memberikan ASI kepada anaknya.

Sementara itu, sebuah penelitian sebelumnya juga mengemukakan, bayi yang awalnya mengonsumsi susu formula kemudian berpindah ke makanan padat lebih cepat daripada yang disarankan, yakni enam bulan, akan menjadi anak yang bertumbuh paling cepat.

Para pakar percaya hubungan antara kalori yang dicerna dan berat badan sangat kuat pada bayi ketimbang pada anak yang berusia lebih tua. ASI diyakini berkaitan dengan pertambahan berat yang lebih perlahan, sebaliknya susu formula akan meningkatkan produksi sel lemak tubuh sehingga berat badan bayi akan bertambah dengan cepat.

16.24 | 0 komentar | Read More

Mengatasi Kegumukan Pada Anak

Mengatasi Kegumukan Pada Anak Khawatir anak Anda menderita obesitas yang bisa membuatnya susah bergerak dan rentan penyakit? Solusinya gampang kok, ajak anak banyak bergerak dan mengurangi minuman manis.Sejak awal, sebaiknya anak tidak perlu diperkenalkan rasa manis karena nanti jika sudah besar ia akan kenal dengan sendirinya.
-- dr Fiastuti Witjaksono, ahli gizi dari Universitas Indonesia.

Bila diminta memilih antara potongan buah segar, air putih, dan minuman manis (sugary drink), tentu balita akan memilih yang terakhir. Sugary drink seperti minuman bersoda, jus kemasan, atau minuman manis lain memang bisa membuat balita kecanduan karena rasa manisnya.

Padahal, menurut dr Fiastuti Witjaksono, ahli gizi dari Universitas Indonesia, minuman manis biasanya mengandung asupan gula tambahan yang bisa memicu obesitas, termasuk pada anak.

"Kita membutuhkan gula setiap harinya sebanyak 2,5 makan atau sekitar 5 sendok teh. Jika masih muda dan aktif bergerak, jumlah tersebut bisa ditambah. Sebaliknya, jika kita lebih banyak duduk diam, kurangi gula," katanya dalam acara media edukasi bertema "Better Habits for a Better Life" yang diadakan oleh Nestle Pure Life di Jakarta

Riset yang dipublikasikan dalam The Lancet dan British Medical Journal menyebutkan, sugary drink bisa memicu obesitas pada anak-anak. Bocah berusia 12 tahun yang meneguk minuman ringan secara teratur berisiko dua kali mengalami obesitas dibanding yang tidak mengonsumsi sugary drink.

"Sejak awal, sebaiknya anak tidak perlu diperkenalkan rasa manis karena nanti jika sudah besar ia akan kenal dengan sendirinya. Sebaiknya berikan anak air putih atau jus buah murni yang banyak mengandung air," katanya.

Ia mengatakan, kandungan gula dalam minuman manis menyumbang 40 persen kebutuhan kalori harian. "Pemberian madu sama saja seperti gula, karena itu perlu dikurangi," katanya.

Fiastuti mengatakan, sejak usia 2 tahun, anak sebaiknya sudah mengonsumsi makanan keluarga, termasuk juga kebiasaan minum air putih. "Kebutuhan anak akan air berbeda dengan orang dewasa. Kebutuhannya disesuaikan dengan jumlah berat badan," paparnya.

Anak-anak juga wajib dibiasakan minum air putih karena mereka lebih aktif bergerak sehingga banyak cairan tubuh yang terbuang. Selain air putih, kebutuhan cairan anak juga bisa diperoleh lewat kuah sayuran, buah yang banyak mengandung air, susu atau jus yang dibuat sendiri.

Orangtua seharusnya membantu anak-anak mereka mengontrol berat badan dalam level yang sehat. Selain mengurangi asupan kalori dan gula, anak juga perlu dilibatkan pada aktivitas fisik bertenaga setiap hari dan membatasi waktu menonton televisi atau bermain video games Mengatasi Kegumukan Pada Anak.
16.23 | 0 komentar | Read More

Anak Obesitas Faktor Keturunan

Anak Obesitas Faktor Keturunan Anak bertubuh gemuk dan montok memang terlihat menggemaskan. Tetapi dari sisi medis anak-anak dengan kelebihan berat badan, apalagi sampai obesitas harus diwaspadai. Kegemukan pada anak dalam jangka panjang bisa memicu penyakit seperti peningkatan kolesterol, diabetes, hingga penyakit jantung.

Kelebihan berat badan yang terjadi di masa kanak-kanak jika tidak dikendalikan juga bisa ikut terbawa sampai anak berusia dewasa. Meski demikian, anak obesitas tidak disarankan untuk melakukan diet.

"Anak-anak masih berada dalam fase tumbuh kembang. Karena itu anak tidak perlu diet tetapi dibiasakan memiliki pola makan sehat sambil ditingkatkan aktivitas fisiknya," kata dr.Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, ahli gizi dari FKUI/RSCM di sela acara diskusi mengenai nutrisi yang diadakan oleh Mead Johnson di Jakarta, pekan lalu.

Makanan yang mengandung gula tinggi serta makanan yang digoreng merupakan jenis makanan yang harus dibatasi. "Makan utamanya tetap tapi makanan yang manis dan digoreng-goreng itu dibatasi," katanya.

Dengan pengaturan pola makan, berat badan anak tidak akan berkurang tetapi proporsi tubuh anak bisa seimbang karena tinggi badannya masih bertambah. "Karena mereka masih tumbuh tinggi, badannya lebih seimbang dengan jumlah berat badan yang sama," imbuhnya Anak Obesitas Faktor Keturunan.
16.21 | 0 komentar | Read More

Akupuntur Solusi Sehat Melangsingkan

Akupuntur Solusi Sehat Melangsingkan Bagi sebagian besar kaum hawa, memiliki tubuh indah dan langsing sudah barang tentu menjadi impian. Tak heran bila banyak wanita yang bermasalah dengan berat badan terutama mereka yang obesitas, kerap mencari cara cepat dan murah untuk menurunkan bobot, termasuk metode alternatif.

Salah satu metode alternatif yang banyak dipilih dalam menguruskan badan adalah terapi akupuntur. Ini merupakan teknik pengobatan yang digunakan dalam pengobatan tradisional Cina. Jarum-jarum yang sangat tajam digunakan untuk menstimulasi titik-titik tertentu pada tubuh.

Pada praktiknya, penanganan obesitas dengan metode akupuntur tidak selalu menjamin keberhasilan. Menjalani terapi akupuntur pun tidak boleh sembarangan. Bila tidak dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli, terapi mungkin akan menjadi sia-sia.

Menurut pakar gizi dari Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Dr. Samuel Oetoro, penanganan obesitas dengan metode akupuntur harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli.

Dalam melakukan akupuntur, ada dua titik pada tubuh yang ditusuk. Pertama adalah titik keinginan untuk terus makan dan yang kedua adalah titik metabolisme.

"Itu berhasil kalau ditusuk pada titik yang tepat, dan harus dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli," ujarnya dalam seminar dan kursus obesitas dengan tema Management of Obesity and Its Related Problems, Jumat, (8/4/2011) di Jakarta.

Berdasar hasil beberapa penelitian, jelas Oetoro, pelangsingan melalui metode akupuntur hasilnya belum terlalu signifikan.  Menurutnya, kebanyakan pasien akupuntur yang merasa berat badannya turun, lebih karena pengaruh obat yang diberikan.  Padahal, seorang akupuntur yang benar-benar ahli biasanya tidak akan memberikan obat kepada pasiennya.

"Kalau ada pasien yang pulang dari akupuntur pulang bawa obat, berarti akupuntur tersebut tidak meyakinkan," tandasnya Akupuntur Solusi Sehat Melangsingkan.
16.18 | 0 komentar | Read More

Makanan Mudah Menimbun Lemak

Makanan Mudah Menimbun Lemak Pilah-pilih makanan adalah salah satu syarat utama bagi mereka yang ingin menurunkan berat badan atau sekadar mempertahankan bobot ideal.  Dalam menjaga berat ideal, Anda sebaiknya menghindari jenis-jenis makanan yang memengaruhi gula darah secara negatif dan hanya akan terus menimbulkan rasa lapar.

Inilah 10 jenis makanan paling populer yang dapat membuat tubuh Anda gampang sekali menimbun cadangan lemak :

1. Roti putih

Ini adalah jenis makanan yang kandungan seratnya sangat minim sehingga tidak akan membuat Anda kenyang lebih lama. Yang terjadi setelah Anda menyantap roti ini adalah gula darah melonjak dengan cepat, dan Anda segera merasa lapar lagi.

Roti putih banyak ditemukan dalam produk makanan seperti burger atau sandwich.  Selain tidak mengandung banyak nutrisi, roti putih justru sering dikombinasikan dengan gula atau pemanis sehingga dapat memicu kenaikan berat badan dengan cepat. Saran para ahli adalah pilihlah roti gandum utuh dan kurangi kebiasaan makan roti putih.

2.  Sereal

Makanan ini banyak dipilih sebagai menu sarapan di perkotaan. Sayangnya, kebanyakan produk sereal di pasaran mengandung gula yang sangat tinggi, tetapi bernilai gizi rendah. Alhasil hal itu justru memicu penumpukan lemak dalam tubuh.  Yang kerap terjadi, setelah makan sereal, perut tidak merasa kenyang karena sereal tidak mengandung serat berarti.

Kalaupun tetap memilih sereal sebagai menu santapan, maka pilihlah yang benar-benar 100 persen terbuat dari gandum utuh. Selain itu, Anda dapat menyantap oatmeal dan menambahkan buah sebagai bagian dari sarapan.

3. Makanan versi diet

Banyak produk kini diberi label rendah lemak, rendah gula, atau khusus diet. Namun, hal yang perlu diingat adalah makanan ini mengandung zat kimia tambahan pangan, seperti pewarna, panambah rasa, atau gula buatan yang tentu memiliki risiko bagi kesehatan. Hal lain yang perlu diingat adalah makanan ini berisiko membuat gula darah menjadi anjlok sehingga Anda cepat merasa lapar. Lebih bijaksana bila Anda memilih buah-buahan alami atau sayuran ketimbang mengonsumsi jenis makanan ini. 

4.  Ayam goreng

Ini adalah menu favorit banyak orang. Akan tetapi, tak banyak yang sadar kalau ayam goreng mengandung lemak yang sangat tinggi karena pemrosesannya menggunakan minyak dengan temperatur tinggi. Pilihlah ayam yang dipanggang dengan bagian daging tanpa lemak.

5. Kopi dengan "creamer" dan pemanis

Kandungan kalori dari secangkir kopi instan plus gula dan creamer bisa mencapai 800 kalori atau hampir separuh dari kebutuhan harian Anda. Kopi atau jenis minuman ringan memang salah satu sumber kalori tersembunyi sehingga banyak dari Anda tak menyadari kalau kebiasaan menenggak kopi dengan gula dan creamer membuat tubuh mengasup kalori berlebihan. Bagi penggemar kopi, Anda disarankan untuk membuat kopi dengan mengatur gula dan creamer secara bijak.

6. Permen dan gula-gula

Ini adalah pilihan paling buruk bagi mereka yang sedang menguruskan badan. Sebagian besar permen hanya mengandung pemanis dan zat kimia tambahan pangan, seperti pewarna atau pengawet. Selain bisa membuat ketagihan, permen tak mengandung gizi berarti, juga membuat tubuh terus menimbun cadangan lemak.

7. Kentang goreng

Kentang sebenarnya jenis bahan makanan dengan kalori rendah. Namun, bila sudah diproses dengan penggorengan bersuhu tinggi, nilai kalorinya melonjak. Makanan ini juga kerap disantap dengan menu berkalori tinggi lainnya di restoran cepat saji, seperti ayam goreng atau burger yang jelas membuat Anda keranjingan. Kalaupun harus makan di restoran cepat saji, maka cobalah untuk tidak memesan kentang goreng.

8. "Pastri", donat, dan makanan ringan

Makanan ini tidak dapat membuat perut kenyang lebih lama karena rendah serat. Selain banyak mengandung gula atau menggunakan pemanis jenis high fructose corn syrup, makanan jenis ini kerap dibuat dengan gandum atau jagung yang telah diproses. Semua bahan makanan ini dapat membuat gula darah dalam tubuh melonjak dengan cepat dan mempercepat timbunan lemak.

Saat mengasup banyak makanan manis, tubuh akan memproduksi hormon insulin untuk mengendalikan kadar glukosa dalam darah. Tingginya glukosa membuat tubuh bisa kelebihan cadangan. Glukosa yang tidak habis terpakai sebagai energi akan ditimbun di bawah lapisan daging dan kulit sebagai lemak. Insulin adalah hormon yang tidak hanya menurunkan gula darah, tetapi juga memberi signal untuk menimbun lemak.

9. Keripik kentang

Jangan sepelekan keripik kentang. Meski terdengar ringan, makanan ini sangat tinggi kalori, tetapi nilai gizinya nol. Proses pengolahannya menggunakan pemanasan tinggi dengan krim dan mentega, yang membuat makanan ini sangat buruk. Keripik kentang juga mengandung bahan pengawet dan garam yang tinggi sehingga menambah risiko bagi kesehatan. 

10. Minuman soda

Soda mengandung kadar gula tinggi. Gula secara instan memberi energi dan membuat tubuh melepaskan serotonin (neurotransmitter yang memperbaiki suasana hati) sehingga banyak yang kecanduan soda cenderung berpostur gemuk.

Peneliti di University of Texas menemukan, soda meningkatkan risiko obesitas rata-rata 32,8 persen, sedangkan diet coke (soda bebas gula) justru meningkatkan risiko hingga 54,5 persen. Kesimpulannya, soda bebas gula tak selalu sehat. Sebagian besar minuman soda mengandung 250 kalori per 600 ml. Tak ada kandungan nutrisi atau mineral di dalamnya, tetapi hanya gula dan kafein Makanan Mudah Menimbun Lemak.
16.17 | 0 komentar | Read More
techieblogger.com Techie Blogger